Tampilkan postingan dengan label Puisi-Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi-Puisi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 18 Juni 2013
Jumat, 17 September 2010
Lepaskan Aku Ibu
MULYOTO
Lepaskan aku, Ibu
Aku ingin terbang di angkasa luas sebagai burung perkasa
Menaiki bukit-bukit dan menuruni lembah-lembah
Meneguk pahitnya racun dan meminum manisnya madu
Lepaskan aku, Ibu: Akan kulalui bola belenggu, kutembus dengan tajam paruhku
Dan pada suatu senja, ketika kau dongengkan belenggu itu lagi, aku tak lagi di dalamnya
Dongengmu hanyalah terdengar sayup-sayup, karena aku telah terlepas dari nina boboknmu
Aku telah terbebas dari mantra-mantramu
Lepaskan aku, Ibu
Dunia ini ternyata luas, tak kuduga ternyata luasnya melebihi batas cakrawala
Di sana di dunia baru, akan tetap kukenang dongeng-dongeng tidurmu
Tentu tetap akan kurindu, saat-saat aku pulang
Lalu kita berbagi bulir-bulir padi basah
Dan nanti di senja hari, bolehlah kau dongengkan cerita paling mistis
Tentang dunia malam dengan suara srigala di sela-sela angin dingin yang menakutkan
Dongengkan lagi, aku akan cepat tidur merajut mimpi-mimpiku sendiri
Dan dongengmu itu, tak lagi punya arti
Lepaskan aku, Ibu
Aku ingin terbang di angkasa luas sebagai burung perkasa
Menaiki bukit-bukit dan menuruni lembah-lembah
Meneguk pahitnya racun dan meminum manisnya madu
Lepaskan aku, Ibu: Akan kulalui bola belenggu, kutembus dengan tajam paruhku
Dan pada suatu senja, ketika kau dongengkan belenggu itu lagi, aku tak lagi di dalamnya
Dongengmu hanyalah terdengar sayup-sayup, karena aku telah terlepas dari nina boboknmu
Aku telah terbebas dari mantra-mantramu
Lepaskan aku, Ibu
Dunia ini ternyata luas, tak kuduga ternyata luasnya melebihi batas cakrawala
Di sana di dunia baru, akan tetap kukenang dongeng-dongeng tidurmu
Tentu tetap akan kurindu, saat-saat aku pulang
Lalu kita berbagi bulir-bulir padi basah
Dan nanti di senja hari, bolehlah kau dongengkan cerita paling mistis
Tentang dunia malam dengan suara srigala di sela-sela angin dingin yang menakutkan
Dongengkan lagi, aku akan cepat tidur merajut mimpi-mimpiku sendiri
Dan dongengmu itu, tak lagi punya arti
Minggu, 08 Agustus 2010
Puisi Kemerdekaan
Mulyoto
Setiap tahun sekali hatiku tergetar entah kenapa
Padahal pohon jati yang luruh di depan rumah
masih seperti dulu juga
Angin yang gemuruh, masih tetap gaduh
Ini bulan Agustus, Papa
Bulan kemerdekaan
bulan di mana angin heroisme menelusup ke benak anak bangsa
kata Putri
Lalu anakku yang nol kecil menyanyi dengan semangat
lagu 17 Agustus
Ditentengnya delapan tas hadiah jalan santai tadi pagi
Tiba-tiba kulukis dalam mataku gemuruh perang di masa revolusi
juga detik-detik saat Soekarno-Hatta membacakan proklamasi
Merdeka
Merdeka
Merdeka
Setiap tahun sekali hatiku tergetar entah kenapa
Padahal pohon jati yang luruh di depan rumah
masih seperti dulu juga
Angin yang gemuruh, masih tetap gaduh
Ini bulan Agustus, Papa
Bulan kemerdekaan
bulan di mana angin heroisme menelusup ke benak anak bangsa
kata Putri
Lalu anakku yang nol kecil menyanyi dengan semangat
lagu 17 Agustus
Ditentengnya delapan tas hadiah jalan santai tadi pagi
Tiba-tiba kulukis dalam mataku gemuruh perang di masa revolusi
juga detik-detik saat Soekarno-Hatta membacakan proklamasi
Merdeka
Merdeka
Merdeka
Jumat, 30 Juli 2010
Kau Pergi
Mulyoto
Rasanya baru kemarin
dengan tenang kau biarkan aku menghisap darahmu
Ketika aku terbujur karena anemia berkali-kali
Rasanya baru kemarin
Kau menyapaku lewat mimpi, lalu kita bercerita tentang angin pagi
Kini kau pergi
tanpa meninggalkan pesan apa pun
Selamat jalan teman,
Tuhan Maha Pengasih akan menyambutmu dalam kedamaian
Rasanya baru kemarin
dengan tenang kau biarkan aku menghisap darahmu
Ketika aku terbujur karena anemia berkali-kali
Rasanya baru kemarin
Kau menyapaku lewat mimpi, lalu kita bercerita tentang angin pagi
Kini kau pergi
tanpa meninggalkan pesan apa pun
Selamat jalan teman,
Tuhan Maha Pengasih akan menyambutmu dalam kedamaian
Rabu, 04 Maret 2009
Angin Siang
Berbicaralah pada angin siang
Saat kita jumpa, aku tak berharap apa-apa
Selain ada perpaduan pemikiran kita
soal hidup, soal angin yang selalu menyapa
Anak-anakku,
Aku telah bertekad menjadi guru di antara kalian
Namun, jangan berharap terlalu banyak padaku
Aku bukanlah penguasa peta negeri antah berantah
bukan penunjuk jalan bagimu
Aku anggap saja sebagai teman ngobrol soal rumus phytagoras
atau soal geometri euclid
Kita ngobrol saja
Jangan banyak berharap padaku
Kamulah yang harus berharap banyak pada dirimu sendiri
Bukankah aku juga tak peranh berharap banyak padamu
Selain, kamu harus selalu berubah
Angin juga berubah
Bumi berubah
Semua berubah
Maka, berubahlah menjadi lebih baik.
Saat kita jumpa, aku tak berharap apa-apa
Selain ada perpaduan pemikiran kita
soal hidup, soal angin yang selalu menyapa
Anak-anakku,
Aku telah bertekad menjadi guru di antara kalian
Namun, jangan berharap terlalu banyak padaku
Aku bukanlah penguasa peta negeri antah berantah
bukan penunjuk jalan bagimu
Aku anggap saja sebagai teman ngobrol soal rumus phytagoras
atau soal geometri euclid
Kita ngobrol saja
Jangan banyak berharap padaku
Kamulah yang harus berharap banyak pada dirimu sendiri
Bukankah aku juga tak peranh berharap banyak padamu
Selain, kamu harus selalu berubah
Angin juga berubah
Bumi berubah
Semua berubah
Maka, berubahlah menjadi lebih baik.
Pada Suatu Senja
Pada suatu senja
ketika daun bambu luruh berputar-putar dalam pandang mata nanarku
Kulihat engkau katakan padaku lirih
- Aku ingin mereguk nikmatnya madu cinta bunga melati
Reguk saja, kataku
Daun bambu masih luruh bersama desis angin parau
Aku masih termangu dalam senja biru itu
Biarlah aku mengembara menciumi bukit-bukit hijau
Biarlah aku terbang mengambang di atas awan, ringan
Senja itu, kau bisikkan kata-kata
Aku bisikkan juga ketelingamu
Birakan angin kering menyapa kita
Kita tetap tertawa, seperti biasa
Kita tetap mandi di kali: lepas seluruh baju, lalu berlari dan terjun bebas di atas riuh sungai
Bebasnya kita saat itu
Seperti burung emprit bergerombol
mencuri bulir padi pak tani
lalu kita bisa terbang ke mana kita suka
Ah, rasanya aku ingin kembali
membaui lumpur kampung malasan di Trenggalek
Saat ayah ibuku masih muda dan merindukanku untuk senantiasa pulang
Kini kerinduan itu muncul lagi, tapi aku hanya bisa menangis
melihat ayah-ibuku renta
dan aku tak lagi bisa menangkap kerinduannya
Ah, tidak ayah-ibu, aku masih seperti dulu
Aku masih bisa mendengar panggilanmu
ketika daun bambu luruh berputar-putar dalam pandang mata nanarku
Kulihat engkau katakan padaku lirih
- Aku ingin mereguk nikmatnya madu cinta bunga melati
Reguk saja, kataku
Daun bambu masih luruh bersama desis angin parau
Aku masih termangu dalam senja biru itu
Biarlah aku mengembara menciumi bukit-bukit hijau
Biarlah aku terbang mengambang di atas awan, ringan
Senja itu, kau bisikkan kata-kata
Aku bisikkan juga ketelingamu
Birakan angin kering menyapa kita
Kita tetap tertawa, seperti biasa
Kita tetap mandi di kali: lepas seluruh baju, lalu berlari dan terjun bebas di atas riuh sungai
Bebasnya kita saat itu
Seperti burung emprit bergerombol
mencuri bulir padi pak tani
lalu kita bisa terbang ke mana kita suka
Ah, rasanya aku ingin kembali
membaui lumpur kampung malasan di Trenggalek
Saat ayah ibuku masih muda dan merindukanku untuk senantiasa pulang
Kini kerinduan itu muncul lagi, tapi aku hanya bisa menangis
melihat ayah-ibuku renta
dan aku tak lagi bisa menangkap kerinduannya
Ah, tidak ayah-ibu, aku masih seperti dulu
Aku masih bisa mendengar panggilanmu
Langganan:
Postingan (Atom)