Label

Tampilkan postingan dengan label Puisi-Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi-Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Juni 2013

Di Padang Alang-Alang

Mulyoto M
Saat itu kita di padang alang-alang
Aku berlari dalam kejaranmu
Lalu aku memetik bunga alang-alang itu
Meniupnya hingga kapas-kapasnya beterbangan dihembus angin
Lalu kau menirukan hal yang sama

Kekasihku,
Lihatlah langit senja itu
Lalu lihat juga burung-burung bangau beriring yang pulang ke kandangnya
Aku ingin terbang seperti mereka,
bersamamu

Kini entah telah senja ke berapa
Aku duduk di bawah pohon waru
Sendiri saja
Aku ingin kau hadir di sini
Lalu mengejarku seperti dulu

Kau masih ingat, kan
pada kapas-kapas yang beterbangan dalam tiuapan angin senja?
Dan burung-burung bangau yang terbang beriringan dalam latar langit jingga?
Ah, aku ingin, kau dan aku tertawa-tawa lagi di padang alang-alang itu

Sooko, 16 Juni 2013

Jumat, 17 September 2010

Lepaskan Aku Ibu

MULYOTO

Lepaskan aku, Ibu
Aku ingin terbang di angkasa luas sebagai burung perkasa
Menaiki bukit-bukit dan menuruni lembah-lembah
Meneguk pahitnya racun dan meminum manisnya madu

Lepaskan aku, Ibu: Akan kulalui bola belenggu, kutembus dengan tajam paruhku
Dan pada suatu senja, ketika kau dongengkan belenggu itu lagi, aku tak lagi di dalamnya
Dongengmu hanyalah terdengar sayup-sayup, karena aku telah terlepas dari nina boboknmu
Aku telah terbebas dari mantra-mantramu

Lepaskan aku, Ibu
Dunia ini ternyata luas, tak kuduga ternyata luasnya melebihi batas cakrawala
Di sana di dunia baru, akan tetap kukenang dongeng-dongeng tidurmu
Tentu tetap akan kurindu, saat-saat aku pulang
Lalu kita berbagi bulir-bulir padi basah
Dan nanti di senja hari, bolehlah kau dongengkan cerita paling mistis
Tentang dunia malam dengan suara srigala di sela-sela angin dingin yang menakutkan
Dongengkan lagi, aku akan cepat tidur merajut mimpi-mimpiku sendiri
Dan dongengmu itu, tak lagi punya arti

Minggu, 08 Agustus 2010

Puisi Kemerdekaan

Mulyoto

Setiap tahun sekali hatiku tergetar entah kenapa
Padahal pohon jati yang luruh di depan rumah
masih seperti dulu juga
Angin yang gemuruh, masih tetap gaduh

Ini bulan Agustus, Papa
Bulan kemerdekaan
bulan di mana angin heroisme menelusup ke benak anak bangsa
kata Putri
Lalu anakku yang nol kecil menyanyi dengan semangat
lagu 17 Agustus
Ditentengnya delapan tas hadiah jalan santai tadi pagi
Tiba-tiba kulukis dalam mataku gemuruh perang di masa revolusi
juga detik-detik saat Soekarno-Hatta membacakan proklamasi

Merdeka
Merdeka
Merdeka

Jumat, 30 Juli 2010

Kau Pergi

Mulyoto

Rasanya baru kemarin
dengan tenang kau biarkan aku menghisap darahmu
Ketika aku terbujur karena anemia berkali-kali

Rasanya baru kemarin
Kau menyapaku lewat mimpi, lalu kita bercerita tentang angin pagi
Kini kau pergi
tanpa meninggalkan pesan apa pun
Selamat jalan teman,
Tuhan Maha Pengasih akan menyambutmu dalam kedamaian

Rabu, 04 Maret 2009

Angin Siang

Berbicaralah pada angin siang
Saat kita jumpa, aku tak berharap apa-apa
Selain ada perpaduan pemikiran kita
soal hidup, soal angin yang selalu menyapa

Anak-anakku,
Aku telah bertekad menjadi guru di antara kalian
Namun, jangan berharap terlalu banyak padaku
Aku bukanlah penguasa peta negeri antah berantah
bukan penunjuk jalan bagimu
Aku anggap saja sebagai teman ngobrol soal rumus phytagoras
atau soal geometri euclid
Kita ngobrol saja
Jangan banyak berharap padaku
Kamulah yang harus berharap banyak pada dirimu sendiri

Bukankah aku juga tak peranh berharap banyak padamu
Selain, kamu harus selalu berubah
Angin juga berubah
Bumi berubah
Semua berubah
Maka, berubahlah menjadi lebih baik.

Pada Suatu Senja

Pada suatu senja
ketika daun bambu luruh berputar-putar dalam pandang mata nanarku
Kulihat engkau katakan padaku lirih
- Aku ingin mereguk nikmatnya madu cinta bunga melati

Reguk saja, kataku
Daun bambu masih luruh bersama desis angin parau
Aku masih termangu dalam senja biru itu
Biarlah aku mengembara menciumi bukit-bukit hijau
Biarlah aku terbang mengambang di atas awan, ringan

Senja itu, kau bisikkan kata-kata
Aku bisikkan juga ketelingamu
Birakan angin kering menyapa kita
Kita tetap tertawa, seperti biasa
Kita tetap mandi di kali: lepas seluruh baju, lalu berlari dan terjun bebas di atas riuh sungai
Bebasnya kita saat itu
Seperti burung emprit bergerombol
mencuri bulir padi pak tani
lalu kita bisa terbang ke mana kita suka

Ah, rasanya aku ingin kembali
membaui lumpur kampung malasan di Trenggalek
Saat ayah ibuku masih muda dan merindukanku untuk senantiasa pulang
Kini kerinduan itu muncul lagi, tapi aku hanya bisa menangis
melihat ayah-ibuku renta
dan aku tak lagi bisa menangkap kerinduannya
Ah, tidak ayah-ibu, aku masih seperti dulu
Aku masih bisa mendengar panggilanmu