Kamis, 26 Agustus 2010

Sistem SKS di SMP dan SMA

Mulyoto

Tadi malam saya membaca Neswleeter di Metro TV soal akan diterapkannya sistem SKS di SMP dan SMA. Kalau ini benar-benar akan menjadi kebijakan Diknas yang baru, rasanya sebentar lagi akan muncul pro-konra.

Sistem ini hemat saya memang sangat menjawab kebutuhan siswa akan karakteristik induvidualnya. Ada siswa yang cepat belajarnya akan terakomodasi, siswa yang lambat pun tidak terbirit-birit dan ngos-ngosan. Guru juga tidak perlu menyulap nilai rapor siswa agar bisa naik kelas karena dalam sistem SKS tentu tidak ada istilah naik kelas atau tinggal kelas. Yang ada adalah siswa lulus atau tidak lulus dalam mata pelajaran topik tertentu. Kalau lulus berarti dia bisa menabung nilai untuk transkrip, tapi kalau belum lulus, terpaksa dia harus mengulang materi itu tanpa harus tinggal kelas.

Secara konsep agaknya sistem ini layak kita dukung karena sangat akomodatif terhadap kebutuhan siswa. Namun secara teknis ribet enggak, ya? Pasti akan lebih ribet dari pada sebelumnya. Bisa dibayangkan kalau biasanya kita menggunakan paket yang praktis kini harus membikin jadwal yang tidak mudahh, tentunya.

Ya, kita dukung aja semoga program ini berhasil. Masalah teknis di lapangan kita selesaikan bersama, terutama butuh peran total Waka kurikulum. Pesan saya, semoga kebijakan ini dilaksanakan dengan sepenuh hati, tidak setengah-tengah, yang justru membuat kita hanya terjebak pada adigium: ganti menteri ganti ganti kebijakan, di mana kebijakan itu tidak berdampak apa-apa bagi kualitas SDM kita. jangan sampai ini terjadi.

Minggu, 08 Agustus 2010

Selamat Berdemokrasi

Untuk kedua kalinya, sekolahku menggelar pesta demokrasi dalam bentuk pilihan langsung wakil kepala sekolah. Proses pilihan dilaksanakan dalam sidang pleno dengan peserta segenap guru dan karyawan dengan dipimpin oleh KPU Sekolah.

Lancar. Tidak ada money politic. Tidak ada anarkhi. Semua berjalan enjoy. Satu poin sudah, kita telah menunjukkan kedewasaan berdemokrasi. Namu, masih ada poin-poin lain yang harus kita penuhi. Kita harus siap menerima hasil pemilihan secara legawa, siapa pun yang jadi. Tak ada istilah jegal menjegal. Sementara itu, bagi yang ketiban sampur juga begitu. Tidak boleh pilih kasih dengan membeda-bedakan siapa yang mendukung dirinya dan siapa yang tidak. Semua harus dilayani sama.

Hal-hal yang saya sebutkan ini rasanya penting untuk ditindaklanjuti. Sebab kalau tidak, sekolah justru akan tergerumus dalam pikiran sempit dan kotak-kotak. Jangan sampai, dech, ini terjadi.

Maju terus. Sekali lagi selamat. Selanjutnya wakasek terpilih mesti menuyusun RAPBS yang aspiratif.

Puisi Kemerdekaan

Mulyoto

Setiap tahun sekali hatiku tergetar entah kenapa
Padahal pohon jati yang luruh di depan rumah
masih seperti dulu juga
Angin yang gemuruh, masih tetap gaduh

Ini bulan Agustus, Papa
Bulan kemerdekaan
bulan di mana angin heroisme menelusup ke benak anak bangsa
kata Putri
Lalu anakku yang nol kecil menyanyi dengan semangat
lagu 17 Agustus
Ditentengnya delapan tas hadiah jalan santai tadi pagi
Tiba-tiba kulukis dalam mataku gemuruh perang di masa revolusi
juga detik-detik saat Soekarno-Hatta membacakan proklamasi

Merdeka
Merdeka
Merdeka

Jumat, 30 Juli 2010

Majalah Sekolah sebagai Pilar Demokrasi, Why Not?

Mulyoto

Demokrasi di sekolah mensyaratkan adanya arus balik kehendak dan pikiran dari grasroot -guru, siswa dan orang tua- dalam keseluruhan proses pendidikan. Singkatnya, butuh media penyalur aspirasi dari setiap komponen pendidikan dalam menentukan roda sekolah. Bagaimna caranya? Pada momen apa?

Menjawab pertanyaan di atas terasa rada-rada susah sebab memang tidak ada agenda baku yang mempertemukan pikiran dalam suatu dialektika yang damai dan alami. Dalam konteks inilah saya sangat berharap adanya peran jurnalistik sekolah. Majalah sekolah sebagai produk jurnalistik hendaknya bisa menjadi media alternatif penyalur aspirasi itu. jadi, majalah sekolah tidak hanya mengembangkan bakat kepenulisan anak didik, melainkan yang paling penting menjadi sebuah pilar demokrasi di sekolah?

Apakah ini terlalu utopis? Entahlah. Yang jelas kita butuh suasana dialogis, bukan komunikasi satu arah saja. Bagaimana pendapat Anda?

Kau Pergi

Mulyoto

Rasanya baru kemarin
dengan tenang kau biarkan aku menghisap darahmu
Ketika aku terbujur karena anemia berkali-kali

Rasanya baru kemarin
Kau menyapaku lewat mimpi, lalu kita bercerita tentang angin pagi
Kini kau pergi
tanpa meninggalkan pesan apa pun
Selamat jalan teman,
Tuhan Maha Pengasih akan menyambutmu dalam kedamaian

Selasa, 20 Juli 2010

Kekerasan dalam Dunia Pendidikan

Mulyoto

Saya tidak menyangka kalau MOS (Masa Orientasi Siswa)yang dilimpahkan kepada siswa senior dari unsur OSIS dan organisasi siswa bidang bakat, akhirnya hingga seperti ini. Nuansanya bukan lagi orientasi sebagai pembekalan siswa baru untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, tetapi malah nuansa kekerasan dalam berbagai tingkatan.

Sebuah kenyataan pahit aku alami tahun lalu. Dalam setiap hari MOS tidak kurang 10 anak mengalami kesrurupan. Maka mau tidak mau harus ada pengeluaran dana di luar anggaran: beaya jasa paranormal. Ada sebuah kisah lucu. Salah seorang yang kesrupan itu tidak sembuh-sembuh setelah ditangani orang pinter. Kata Bapak Kepala Sekolah, wah roh yang merasukinya bandel, nih. Mesti dipanggilkan Pak Yai. Tapi masih juga anak itu berteriak-teriak histeris.

Usut punya usut, ternyata si anak bukan kesurupan, tapi depresi. Saran Pak Yai, jauhkan dari kakak senior. Dan ternyata benar. dalam waktu singkat, si anak langsung diam dan bisa diajak bicara. Tidak berteriak-teriak lagi. Rupa-rupanya dia langsung tegang dan depresi setiap melihat sosok sang senior.

Saya mengusulkan, perploncoan dan bentakan-bentakan keras, bahkan hukuman fisik harus dihentikan. Caranya, mulai tahun depan harus diambil alih oleh guru. Libatkan siswa senior secara minim. Baru MOS bisa dikembalikan pada koridor yang benar. Selama tidak diambil alih, maka kekerasan demi kekerasan akan terus berlanjut turun temurun. Makin tahun makin meningkat tingkat kerasnya, seiring dengan makin kreatifnya sang senior.

Namun usulan saya hingga sekarang masih belum dianggap masuk akal. Saya hingga sekarang berandai-andai, andaikan MOS dijadikan sebagai media aktualisasi diri bagi senior dalam bentuk kegiatan kreatif namun bernuansa peace, unjuk prestasi, dan bukan unjuk kekerasan dan kekuasaan.

Jumat, 07 Mei 2010

Ujian Nasional Jalan Terus

Mulyoto

Seperti kita tahu bersama ujian nasional jalan terus. Malahan di tingkat SD, ujian itu sempat tereliminasi, namaun kini ditampilkan lagi. Ujian nasional merupakan suatu keharusan bagi sebuah usaha yang butuh proses panjang bernama pendidikan. "Tanpa sistem evaluasi yang valid, bagaimana kita tahu pencapaian target-target dari program pendidikan," kata anggota DPR Angelia Sondakh. Meski, hal itu akhirnya mesti menyamaratakan standar bagi seluruh sekolah di Indonesia.

Pendapat di atas nampaknya masih sangat kuat berkutat dalam benak para pengambil kebijakan kita. Tapi saya hanya memberi catatan atas pertanyaan Dedi Miswar, apakah seorang anak yang menapat nilai 1,00 pada mata pelajaran matematika (tidak lulus, dong), tapi genius pada pelajaran melukis sehingga mampu menghasilkan karya-karya seni lukis yang hebat, tetap dianggap sebagai manusia gagal?

Dedi nampaknya ingin agar setiap manusia tetap bisa dihargai untuk bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan jati dirinya. Janganlah anak didik kita vonis berhasil tidaknya dengan nilai-nilai rigid yang sama rata.

Bagaimana pendapat Anda?