Rabu, 15 Mei 2013

Mengurangi Demam Bahasa Alay

Judul Buku : The Purple Basket Team
Penulis : Ida Robit
Penerbit : Noura Books, Jakarta
Tebal : 176 halaman
Cetakan I:  Februari 2013
Peresensi : Mulyoto M

Missi terpenting dari sebuah buku cerita anak adalah menanam nilai-nilai moral. Untuk urusan ini, buku The Purple Basket Team sukses menjalankan missinya. Cukup banyak nilai moral yang dapat terinternalisasi pada anak yang membaca buku ini: nilai persahabatan, semangat, kesopanan, dan sportivitas. Ada bonus: managemen praktis.

The Purple Basket Team adalah nama tim basket yang dibentuk oleh Nikita Billy (bukan Nikita Willy) di sekolah barunya: Marigold Elementary Girls School. Di sekolah barunya ini belum ada tim bola basket putri sehingga Nikita merasa perlu untuk membentuknya.

Di sekolah lamanya gadis mungil yang kalau berjalan suka menyalip itu memang mengikuti kegiatan ekskul basket untuk menyalurkan hobinya. Di sinilah semangat Nikita diuji. Ketika tim telah terbentuk, ia menghadapi teror dari Arumi, teman barunya yang merasa tersaingi sebagai sesama penyuka warna ungu. Berkat perjuangan Nikita yang dibantu teman-temannya, akhirnya justru Arumi bisa ditarik sebagai anggota tim.

The Purple Basket Team berjaya. Meski masih unyu, tim ini bisa meraih Juara II dalam sebuah kompetisi basket. Prestasi Nikita dan kawan-kawan tidak berhenti di situ. Nikita dan kawan-kawan berhasil menggelar kompetisi basket di sekolahnya yang diikuti oleh tim basket putri dari sekolah-sekolah lain. Di sinilah managemen praktis tereksplorasi. Nikita harus membuat perencanaan (planing), koordinasi (coordinating), dan puncaknya, pelaksanaan (acting) dan evaluasi (evaluating).

Pembelajaran managemen praktis ini akan mudah dipahami anak-anak, karena dalam buku ini semuanya dibahas secara detail hingga ke masalah-masalah teknis. Sebagian besar setting cerita ini memang sekolahan. Tergambar dengan sangat jelas bagaimana lorong-lorong kelas, ruang guru, kantin dan lapangan basket.

Saat membaca cerita ini, kita seperti disuguhi sebuah contoh sekolah ideal. Sekolah yang menjadi dambaan kita bersama. Sebagai tokoh utama, Nikita bisa menampilkan diri sebagai anak yang baik. Bicaranya sopan, hormat sama orang tua, dan satu lagi: sangat peduli pada ayahnya.

Bayangkan, satu hari menjelang kompetisi basket yang telah lama ia tunggu-tunggu, ada kabar bahwa ayahnya masuk rumah sakit. Toh, dalam kebimbangan, ia bisa menentukan pilihan yang tepat: menunggui ayahnya yang kena batu ginjal itu.

Kelebihan lain dari buku ini, bahasa yang digunakan sangat rapi dan memenuhi ciri bahasa yang baik dan benar tanpa mengurangi kelancaran mengalirnya cerita. Di tengah-tengah menjamurnya bahasa alay, ini sangat penting sebagai penyeimbang. Syukur kalau bisa mengurangi “demam” bahasa alay yang melanda anak-anak kita. Buku ini layak kita sambut kehadirannya. []

Resensi ini diikutkan Lomba Resensi yang diadakan oleh Penulis Bacaan Anak. www.forumpba.blogspot.com.